TOPNEWSPLUS.COM, Jakarta – Penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kemajuan industri pertambangan nikel nasional. Menjawab kebutuhan tersebut, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) kembali menggelar Training to Miners (TTM) Series 8 yang mempertemukan regulator, pelaku usaha, dan praktisi pertambangan dalam satu forum pembelajaran mengenai perkembangan kebijakan dan tata kelola sektor mineral.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (29/7/2026), diikuti sekitar 120 peserta dari berbagai perusahaan pertambangan, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), konsultan, organisasi profesi, hingga asosiasi yang bergerak di bidang pertambangan mineral.
Ketua Bidang Perizinan APNI, Ense Da Cunha Solapung, mengatakan tantangan industri pertambangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam memahami regulasi, mengelola operasional secara profesional, dan menerapkan prinsip-prinsip pertambangan yang baik.
Menurutnya, perubahan kebijakan pemerintah yang terus berkembang menuntut seluruh insan pertambangan untuk meningkatkan kapasitas serta memperbarui pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan dinamika industri.
“TTM Series 8 kami selenggarakan sebagai sarana pembelajaran bersama agar seluruh pelaku usaha memiliki pemahaman yang sama terhadap perkembangan regulasi dan arah kebijakan pemerintah di sektor pertambangan,” ujar Ense.
Ia menjelaskan bahwa selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, peserta mendapatkan materi langsung dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait. Pembahasan meliputi perkembangan sektor Minerba, kebijakan perizinan, aspek lingkungan hidup, kehutanan, perekonomian, hingga tata kelola perusahaan pertambangan.
Selain memberikan pembaruan mengenai regulasi, APNI juga mendorong peserta untuk memperkuat budaya kepatuhan dalam menjalankan kegiatan operasional. Ense menilai kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat sekaligus meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap industri pertambangan Indonesia.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai sejumlah kebijakan strategis yang tengah dipersiapkan pemerintah, termasuk rencana pembentukan Indonesia Mineral Exchange (IMEX) sebagai bursa mineral nasional. Kehadiran IMEX diharapkan mampu meningkatkan transparansi perdagangan mineral sekaligus memperkuat daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Isu lain yang turut dibahas adalah implementasi Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan perubahan regulasi yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan di kawasan hutan. Menurut Ense, perusahaan perlu memahami ketentuan tersebut agar mampu menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan aturan yang berlaku serta menghindari potensi sanksi administratif.
APNI menilai peningkatan kualitas SDM harus berjalan seiring dengan pembaruan regulasi. Tanpa pemahaman yang memadai, perusahaan akan menghadapi tantangan dalam menyesuaikan operasional terhadap berbagai kebijakan baru yang diterapkan pemerintah.
Melalui TTM Series 8, peserta tidak hanya memperoleh materi teoritis, tetapi juga kesempatan berdiskusi langsung dengan para regulator mengenai berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan. Forum ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Ense menegaskan bahwa investasi pada pengembangan SDM merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan industri pertambangan nasional. Perusahaan yang memiliki tenaga kerja kompeten dan memahami regulasi akan lebih siap menghadapi perubahan kebijakan, meningkatkan efisiensi operasional, serta menerapkan Good Mining Practices secara konsisten.
“APNI berharap TTM Series 8 menjadi wadah lahirnya sumber daya manusia pertambangan yang semakin profesional, adaptif, dan berintegritas. Dengan kompetensi yang terus meningkat, industri nikel Indonesia akan semakin siap menghadapi tantangan global sekaligus mendukung agenda hilirisasi dan pembangunan ekonomi nasional,” tutup Ense Da Cunha Solapung.












