TOPNEWSPLUS.COM, Jakarta, 4 Agustus 2026 – Peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia yang digelar di Auditorium Jusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Selasa (4/8/2026), menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali gagasan-gagasan ekonomi dan kebangsaan almarhum Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan pembangunan nasional.
Sejumlah tokoh pemerintahan, akademisi, ekonom, serta masyarakat menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan warisan intelektual Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo (1917 – 2001) yang hingga kini masih relevan dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia di tengah tantangan global.
Usai menghadiri acara, Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama RI, Haji Muhammad Fuad Nasar, menyampaikan bahwa Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo merupakan sosok ekonom sekaligus negarawan yang telah memberikan sumbangsih besar bagi arah kebijakan ekonomi nasional sejak masa awal pembangunan.
Dalam wawancara dengan awak media, Muhammad Fuad Nasar mengatakan bahwa perjalanan hidup Prof. Soemitro berjalan seiring dengan perjalanan bangsa Indonesia. Beliau lahir dan tumbuh di tengah perjuangan kemerdekaan, kemudian menjadi bagian penting dalam proses pembangunan nasional setelah Indonesia merdeka.
“Pada hari ini kita mengenang sekaligus memberikan penghormatan kepada almarhum Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo sebagai seorang ekonom yang memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa dan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Muhammad Fuad Nasar.
Menurutnya, Prof. Soemitro tidak hanya dikenal sebagai seorang akademisi, tetapi juga sebagai tokoh yang terlibat langsung dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia. Pemikiran dan gagasan yang beliau lahirkan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan nasional, khususnya pada masa Orde Baru.
Muhammad Fuad Nasar menjelaskan bahwa pengalaman Prof. Soemitro melewati berbagai fase sejarah bangsa memberikan perspektif yang sangat luas mengenai arah pembangunan Indonesia. Beliau menjadi saksi sekaligus pelaku dalam berbagai dinamika ekonomi nasional, mulai dari masa awal kemerdekaan hingga menjelang berakhirnya Orde Baru.
“Beliau memiliki pengalaman yang panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tidak hanya menyaksikan sejarah, tetapi juga berperan langsung dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi nasional pada masanya,” katanya.
Ia menilai bahwa warisan intelektual Prof. Soemitro tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata, melainkan harus terus dipelajari dan dijadikan referensi oleh generasi penerus bangsa dalam membangun Indonesia yang lebih mandiri, maju, dan berdaya saing.
Menurut Muhammad Fuad Nasar, peluncuran buku ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan kembali pemikiran Prof. Soemitro kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Apresiasi kepada Nusantara Centre, sahabat saya Prof. Dr. Yudhie Haryono, yang menginisiasi agenda berharga ini.
Ia berharap nilai-nilai perjuangan, semangat kebangsaan, serta pandangan ekonomi yang berpihak pada kepentingan rakyat dapat terus dihidupkan dan diwariskan melalui berbagai karya ilmiah maupun literasi sejarah.
“Legacy yang ditinggalkan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo merupakan warisan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Kita perlu menghayati nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang diperjuangkan oleh para sesepuh ekonom bangsa, seperti Mohammad Hatta, Soemitro Djojohadikusumo, Sjafruddin Prawiranegara, Jusuf Wibisono, hingga Emil Salim, dan lain-lain, dalam bidang ekonomi, pembangunan, dan upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Muhammad Fuad Nasar menekankan bahwa Indonesia memerlukan generasi muda yang memahami sejarah pemikiran para tokoh bangsa agar mampu melanjutkan cita-cita pembangunan nasional dengan tetap berlandaskan pada kepentingan rakyat.
Peluncuran buku ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengenang sosok Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang mampu membangkitkan semangat intelektual, nasionalisme, dan kemandirian ekonomi Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh salah satu ekonom terbesar yang dimiliki bangsa.












