Ekonomi Dan BisnisPopuler

Teknologi Komputasi Kuantum di Hong Kong Electronics Fair 2026, SpinQ Ungkap Potensi dan Tantangan Keamanan Siber

15
×

Teknologi Komputasi Kuantum di Hong Kong Electronics Fair 2026, SpinQ Ungkap Potensi dan Tantangan Keamanan Siber

Sebarkan artikel ini

TOPNEWSPLUS.COM, HONG KONG – Perkembangan teknologi komputasi kuantum (Quantum Computing/QC) menjadi salah satu sorotan dalam Hong Kong Electronics Fair (Autumn Edition) 2026 yang diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) pada 13–16 Oktober 2026. Untuk pertama kalinya, pameran ini menghadirkan teknologi komputasi kuantum sebagai bagian dari pengembangan teknologi industri masa depan.

Dalam ajang tersebut, Future Industries Zone menampilkan sejumlah teknologi mutakhir yang mencakup komputasi masa depan, manufaktur masa depan, teknologi kelautan dan kuantum, mikroelektronika, serta teknologi kesehatan. Zona ini dikembangkan untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang berpotensi mendukung transformasi industri global.

Dr. Rudi Rusdiah dari Asosiasi Big Data dan Kecerdasan Buatan Indonesia (ABDI) mengulas perkembangan teknologi komputasi kuantum melalui kunjungan ke stan yang menghadirkan kolaborasi Hong Kong Productivity Council (HKPC) dengan SpinQ, perusahaan yang mengembangkan teknologi komputasi kuantum berbasis superkonduktor di Shenzhen, Tiongkok.

Komputasi Kuantum Buka Peluang Baru di Dunia Teknologi

Komputasi kuantum menawarkan pendekatan berbeda dari sistem komputasi klasik yang menggunakan bit bernilai nol dan satu. Teknologi ini memanfaatkan qubit, superposisi, dan keterikatan kuantum atau entanglement untuk memproses jenis permasalahan tertentu dengan pendekatan yang tidak dapat dilakukan secara efisien oleh komputer konvensional.

Potensi penerapannya mencakup simulasi molekuler, penelitian material, optimasi kompleks, pengembangan kecerdasan buatan (AI), hingga kriptografi. Meski demikian, komputasi kuantum bukan pengganti langsung prosesor CPU maupun GPU, melainkan teknologi pelengkap yang dapat memperluas kemampuan komputasi untuk kebutuhan khusus.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam industri ini adalah komputasi kuantum berbasis superkonduktor. Teknologi tersebut menggunakan rangkaian superkonduktor dan komponen Josephson junction yang beroperasi pada suhu kriogenik untuk mengendalikan qubit secara presisi.

Perkembangan desain chip, pengendalian qubit, dan koreksi kesalahan kuantum menjadi faktor penting dalam meningkatkan stabilitas serta kemampuan sistem tersebut.

SpinQ Kembangkan Teknologi Komputasi Kuantum

SpinQ menjadi salah satu perusahaan yang diperkenalkan dalam Future Industries Zone melalui kolaborasi dengan HKPC. Perusahaan tersebut berfokus pada pengembangan perangkat keras, algoritma pengendalian, dan arsitektur sistem komputasi kuantum.

Dalam pemaparannya, perkembangan teknologi kuantum tidak hanya diukur berdasarkan jumlah qubit, tetapi juga kualitas pengendalian, tingkat kesalahan, stabilitas sistem, serta kemampuan menjalankan algoritma yang relevan untuk kebutuhan industri.

Sistem komputasi kuantum berbasis superkonduktor memerlukan pengoperasian pada suhu sangat rendah dan infrastruktur khusus. Karena itu, peningkatan jumlah qubit harus diikuti dengan pengembangan teknologi koreksi kesalahan agar sistem dapat digunakan secara lebih andal.

Potensi peningkatan kemampuan komputasi ini menjadi perhatian dunia riset dan industri, terutama untuk menyelesaikan persoalan yang sulit ditangani oleh sistem komputasi klasik.

Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Keamanan Siber

Selain menawarkan peluang inovasi, perkembangan komputasi kuantum juga memunculkan tantangan baru bagi keamanan siber. Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan penggunaan algoritma kuantum, seperti algoritma Shor, untuk memecahkan sistem kriptografi kunci publik tertentu apabila komputer kuantum yang cukup besar dan andal berhasil dikembangkan.

Algoritma tersebut secara teoretis dapat mengancam skema kriptografi yang saat ini digunakan dalam berbagai layanan digital, termasuk sistem yang mengandalkan RSA dan kriptografi kurva eliptik atau ECC.

Namun, kemampuan tersebut masih bergantung pada tersedianya komputer kuantum dengan jumlah qubit logis yang memadai, tingkat kesalahan yang rendah, serta sistem koreksi kesalahan yang efektif. Komputer kuantum yang tersedia saat ini belum dapat dianggap mampu membobol sistem enkripsi perbankan modern secara praktis hanya berdasarkan jumlah qubit fisiknya.

Risiko lain yang menjadi perhatian adalah strategi Harvest Now, Decrypt Later (HNDL). Dalam skenario ini, pihak yang tidak bertanggung jawab mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk mencoba mendekripsinya pada masa mendatang ketika teknologi yang dibutuhkan telah tersedia.

Ancaman tersebut mendorong organisasi pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan teknologi untuk mempersiapkan migrasi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC), yakni metode kriptografi yang dirancang agar tetap aman menghadapi ancaman dari komputer kuantum.

Indonesia Perlu Mempercepat Persiapan Migrasi PQC

Sebagai anggota Task Force PQC Migration yang diampu Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), ABDI menaruh perhatian terhadap perkembangan komputasi kuantum dan kesiapan sistem kriptografi nasional.

Migrasi menuju PQC membutuhkan persiapan sejak dini, termasuk pemetaan penggunaan algoritma kriptografi, inventarisasi sistem digital, evaluasi infrastruktur teknologi informasi, serta penyusunan tahapan implementasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor.

Langkah tersebut penting mengingat sistem digital yang menyimpan informasi sensitif dalam jangka panjang berpotensi menghadapi risiko apabila algoritma kriptografi yang digunakan tidak lagi memadai di masa depan.

Selain mempersiapkan migrasi kriptografi, Indonesia juga perlu memperkuat kapasitas riset, pengembangan sumber daya manusia, dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta industri teknologi.

Pengembangan ekosistem komputasi kuantum nasional dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri teknologi masa depan.

Komputasi Kuantum dan Superkomputer Klasik Saling Melengkapi

Perkembangan teknologi kuantum juga terlihat melalui inovasi perusahaan besar seperti IBM dan Google. IBM mengembangkan prosesor kuantum berbasis superkonduktor, sementara Google Quantum AI memperkenalkan prosesor Willow untuk penelitian dan pengujian kemampuan komputasi kuantum.

Di sisi lain, superkomputer klasik tetap memiliki peran penting dalam komputasi ilmiah, analisis data, simulasi, dan kecerdasan buatan. Sistem seperti Frontier dan El Capitan di Amerika Serikat menunjukkan kemampuan komputasi berkinerja tinggi untuk berbagai kebutuhan penelitian dan industri.

Dalam praktiknya, komputer klasik dan komputer kuantum diperkirakan akan digunakan secara hibrida. Komputer klasik dapat menangani pengolahan data, pengendalian sistem, dan sebagian proses perhitungan, sementara prosesor kuantum digunakan untuk tugas tertentu yang sesuai dengan karakteristiknya.

Pendekatan ini juga tercermin dalam pengembangan perangkat lunak dan platform komputasi yang menghubungkan sistem klasik dengan perangkat kuantum.

Meski demikian, klaim keunggulan kuantum perlu dilihat berdasarkan jenis tugas, metode pengujian, dan tolok ukur yang digunakan. Keunggulan pada satu jenis perhitungan tidak serta-merta berarti komputer kuantum lebih cepat untuk seluruh kebutuhan komputasi.

ABDI Siapkan DataGovAI 2026

Selain mengamati perkembangan teknologi kuantum, ABDI dijadwalkan menyelenggarakan DataGovAI 2026 Summit, Nominasi Awards Ceremony, dan Grand Book Launching Ceremony pada 18 November 2026 pukul 12.00–16.30 WIB.

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung secara hybrid, yakni melalui Zoom untuk peserta daring dan secara langsung di MNC Conference Hall, iNews Tower, dengan undangan khusus.

Pendaftaran peserta daring dapat dilakukan melalui tautan berikut:

https://forms.gle/xFEJhLXoppWM9USb7

Untuk informasi mengenai undangan kehadiran secara langsung, calon peserta dapat menghubungi sekretariat ABDI melalui email sekretariat@abdi.id.

Perkembangan komputasi kuantum yang diperkenalkan di Hong Kong Electronics Fair 2026 menjadi pengingat bahwa transformasi teknologi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan pemrosesan data, tetapi juga kesiapan keamanan informasi. Bagi Indonesia, penguatan riset dan persiapan migrasi menuju kriptografi pascakuantum menjadi langkah strategis untuk menghadapi perubahan lanskap teknologi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *